Kamis, 02 September 2021

I thought, I am Loved

Yesterday I opened this blog, to write about something that actually make me happy.

I even want to mark the date as a special day, karena I fell loved. It feel so good, I was in loved.

Sebelum mau mulai cerita, aku masih kepikiran buat baca - baca cerita yang sebelumnya ditulis, udah sampe mana sebenernya, dan apa aja yang udah terjadi. Ternyata bener aja, it's just a simple thing yang mungkin dirasa sebagai suatu effort yang cukup besar untuk dia lakuin. I admit it, itu memang effort yang bikin aku merasa disayang dan diperjuangkan. He bought a bible and told me to read that together every night, karena kemarin sempet berasa setiap malem selalu ada hal yang bikin kita ribut.

Baru berlangsung di awal September, 1 September 2021. Yet, yesterday he was so weird. Kita memperdebatkan hal yang mungkin sebenernya gak perlu diperdebatkan, hal yang dia blg it was just a discussion. Story begins, just with a single question yang selalu aku jawab gak apa - apa. I actually sad remembered that, because I smiled to him hal yang bikin dia bertanya 'kenapa?' yang tentu saja aku jawab dengan kata gak apa - apa, it was just a smiled. Do I need a certain reason to smile?

Hal itu gak jadi masalah, sampe aku menceritakan kebiasaan ku yang sering tanpa sadar senyum ke orang asing which I know that is not an usual behavior atau bahkan bukan kebiasaan yang cukup baik karna bisa disalahartikan mengingat yang aku senyumin adalah a total stranger. I told him everything about this, dan dia merasa pasti ada alasan untuk semua hal yang aku lakuin. He told me to be mindful. Idk, it feels weird. Aku merasa senyum yang aku kasih ke orang lain di tengah jalan bukan hal yang perlu didiskusikan lebih lanjut, he makes me feel like i'm a weirdo. Yasudah, katanya pasti ada tendency nya, try to learn about it, at first I was.. oh okaayy sounds good. Aku juga ingin tau apa yang membuat aku melakukan hal tersebut.

Pertama dia bilang, mungkin I smiled because i seek for an attention jadi minta disenyumin balik. Probably, bisa jadi. I know who I am, dan apa yang aku biasanya cari, jadi aku ga menolak penjelasan tersebut. Apakah diskusi berhenti sampai disana? Tentu saja tidak. Aku mulai gak terlalu paham, apa sebenernya ujung dari diskusi ini dan kenapa ada diskusi ini, apa yang mau didiskusikan? Aku gak merasa ini sebuah masalah until he make it looks like one. Singkat cerita terjadi diskusi yang lebih seperti perbdebatan karena even ketika aku setuju, dan bilang mencoba untuk menguranginya dia masih melanjutkan diskusi untuk cari tau the tendency. There was a time, he asking the same question tapi dengan artian yang cukup menyakitkan bisa dibilang ''Kenapa, kamu mulai nunjukin ekspresi fake itu?'' karena aku kesel tapi tersenyum. Dia mencoba menjelaskan kalau aku kesel dan mungkin berusaha membuat dia gak kepikiran so i smiled. At the moment i was like, whattt... that was not being mindful. I just smiled so i can stop raising my voice, i smiled so i can start to calm myself down dan membuat perdebatan ga terus - terusan terjadi. 

Lucunya, setelah perdebatan tersebut terjadi semua orang bisa tau kalau pembicaraan tersebut menjadi percakapan yang gak nyaman sama sekali buat aku except him. I don't know, apakah dia gak tau atau dia gak perduli. Dia cuman bilang untuk aku santai dan gak meninggikan nada karena itu cuman diskusi biasa lalu? ya discussion goes on.. bodoh sekali rasanya membiarkan 'diskusi' itu berlangsung sekali lagi, sempet memperdebatkan hal yang sama until i had enough aku bilang 'Ya mungkin kyk gtu' tapi dia masih berusaha bilang 'Iya in aja biar cepat selesai ya' and i said yes. 

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar